Sabtu, 15 Oktober 2022

BERPIKIR KRITIS MAHASISWA

 

Menurut pendapat Suwardjono (2005) menyatakan bahwa kondisi belajar mengajar di perguruan tinggi di Indonesia secara umum belum mengubah secara nyata wawasan dan perilaku akademik. Hal ini terlihat dari sudut pandang, cara berpikir mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi yang tidak menunjukkan perbedaan dengan masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.

Idealnya miliki oleh setiap mahasiswa memiliki kemampuan hard skills dan soft klills. Namun kenyataan selama ini, perkuliahan yang terjadi terkadang masih hanya menguatkan hard skills saja. Hard skills yang dimaksud disini berkaitan dengan penguasaan materi perkuliahan (teori), sedangkan soft skills lebih kearah penguat hard skills. Menurut Wagner (2008) yang termasuk soft skills salah satunya berupa kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Pentingnya berpikir kritis bagi seorang mahasiswa yaitu seorang mahasiswa harus memiliki kemampuan berpikir kritis serta menyimpulkan permasalahan, mengerti dan memahami bagaimana memanfaatkan suatu informasi yang dimiliki untuk dapat dipecahkan dari sumber yang relevan. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis ikut menentukan keberhasilan mahasiswa dalam membangun pemahaman sebuah kritik konstruktif terhadap suatu konsep. (Enny Diah Astuti, 2021)

Karakter yang dimiliki oleh mahasiswa merupakan karakter yang dapat membawa perubahan dan bermanfaat bagi orang lain. Salah satunya dalam berpikir kritis. Setiap hari manusia dihadapkan oleh berbagai permasalahan, isu-isu, dan narasi-narasi yang mempengaruhi kehidupan. Semua permasalahan itu tidak mungkin dapat dipikirkan dengan mudah, sering kali permasalahan itu sulit dihadapi. Maka dari itu, sebagai mahasiswa harus membiasakan diri untuk berpikir secara kritis agar dapat membuat keputusan yang matang dan bijaksana. Selain itu hal ini dapat menolong, sebab tidak mudah terprovokasi dan menelan informasi secara mentah-mentah. Mahasiswa yang biasa berpikir kritis akan mendalam atau menggali informasi dan memahami suatu masalah dengan baik sehingga dapat mengambil keputusan dengan bijak. Mahasiswa yang mempunyai kualitas pendidikan yang baik akan membawa perubahan yang baik bagi bangsa.

Dilihat dari konteks perbaikan kualitas pendidikan, maka Problem Based Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran. Model problem based learning merupakan pembelajaran yang menggunakan kemampuan berpikir mahasiswa secara individu maupun kelompok secara nyata dalam mengatasi permasalahan sehingga lebih bermakna, relevan dan kontekstual. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah sebuah model pembelajaran yang memfokuskan pada pelacakan akar masalah dan memecahkan masalah tersebut (Abbudin, 2011:243).

Menurut Wina Sanjaya (2010 : 214-215) terdapat tiga ciri utama dari Problem Based Learning antara lain : pertama, Problem Based Learning merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi Problem Based Learning ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan mahasiswa. Problem Based Learning tidak mengharapkan mahasiswa hanya sekadar mendengarkan, mencatat, dan kemudian menghapal materi pelajaran, akan tetapi melalui Problem Based Learning mahasiswa didorong untuk aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, sehingga pada akhirnya menyimpulkan.

Kedua, aktivitas pembelajaran ditujukan untuk menyelesaikan masalah. Problem Based Learning menempatkan masalah sebagai kata kunci dalam pembelajaran. Sehingga dapat diartikan tanpa masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran. Ketiga, pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.

Keterampilan berpikir kritis mahasiswa yang dikembangkan melalui penerapan problem based learning adalah untuk mendorong mahasiswa memiliki kemampuan mengidentifikasi masalah, memetakan masalah, mencari solusi dalam penyelesaian secara kreatif serta cara mahasiswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat dalam memberikan tanggapan dari kelompok lain yang memiliki pendapat yang berbeda serta cara mahasiswa bertanya dan menjawab pertanyaan dan mengemukakan pendapat berdasarkan sumber informasi yang tepat.

Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa penerapan problem based learning sangat membantu untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis mahasiswa. Kemampuan berpikir kritis inilah yang nantinya dapat dijadikan sebagai bekal mahasiswa untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi di masa depan dan sebagai persiapan mahasiswa untuk terjun ke dalam dunia industri.



Fania Septiany

Administrasi Bisnis-A

Institut Manajemen Wiyata Indonesia

Selasa, 04 Oktober 2022

MENULIS UNTUK KEPERLUAN TUGAS?!

Banyak orang termasuk saya masih merasa belum bisa menulis. Kendala yang sering terjadi berharap tulisan saya bagus menerapkan ekspetasi berlebih kepada kemampuan saya. SPOK, tanda baca dan peraturan penulisan lainnya yang membuat ingin menyerah. Menurut saya, rasa ingin menulis muncul karena rasa ketertarikan membaca, membaca hal yang ringan-ringan saja. Biasanya saat membaca dan masuk kedalam alur tersebut  setelah selesai membaca ada rasa tersendiri yang muncul, bila hal itu terjadi terus menerus memunculkan ide dan keinginan menulis. 

Awal ketertarikan menulis terjadi saat dibangku Sekolah Menengah Pertama, walau saat itu hanya keinginan saja belum menulis sampai beberapa chapter. Itu terjadi karena saat itu ditawari membaca salah satu platform aplikasi komunitas online yang penggunanya dapat menulis dan membaca konten informasi dalam lingkup cerita sastra cyber (dunia sastra), yang saat itu ramai dibicarakan. Saya mulai membaca isi konten yang direkomendasikan teman-teman saya dan telarut dalam beberapa cerita yang menginspirasi dalam beberapa genre yang saya suka. Hingga saya melihat perjuangan beberapa penulis yang saya suka menerbitkan karyanya hingga saat ini. Namun, disisi lain tulisan saya berhenti, semangat menulis pun hilang. Berbarengan dengan itu saya merasa cukup bosan mungkin karena penulis yang saya suka sudah mulai berganti platform berbayar dan saya tidak mampu membeli karyanya. Dengan itu, saya pun berganti hiburan ke komik yang dapat dinikmati secara online dalam bentuk website, walau tetap ada hubungan nya dengan dunia sastra.




Pengalaman yang saya punya memang tidak menginspirasi dan tidak bisa dijadikann contoh, pengangalan ini hanya kelabilan seorang remaja yang mencari hiburan tanpa ada hasil, tapi dengan ini saya bertemu satu sosok yang menginspirasi selain dari karyanya kepribadiannya lah yang paling saya kagumi, senang bisa mengenal rintik sedu yang sering dibilang paus karena beliau tidak mau dipanggil kakak atau semacamnya.

Untuk bisa disebut sebagai penulis yang banyak penggemar mungkin saya belum sanggup atau bahkan tidak sanggup. Tapi saya menikmati saat ada tugas membuat surat menyurat, artikel, makalah,essay yang saat proses pembuatan pengennya asal kumpul aja tapi tidak semudah itu untuk saya yang sedikit perfeksionis. Dunia sastra memang sangat menyenangkan tapi saya tim penikmat saja, cukup dengan menyelesaikan tugas saya merasa seperti membuat karya sendiri.


Fania Septiany

Administrasi Bisnis-A

Institut Manajemen Wiyata Indonesia


MOTIVASI

Semua orang perlu motivasi dalam kehidupannya dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan lansia. Yang membedakan hanya tujuan, motivasi dapat di...