Senin, 21 November 2022

Implementasi dari Resiko dan Imbal Hasil dengan Portofolio

 Fania Septiany, Institut Manajemen Wiyata Indonesia

Mahasiswa merupakan masa memasuki masa dewasa yang pada umum berada pada rentang usia 18-25 tahun, pada masa tersebut mahasiswa memiliki tanggung jawab terhadap masa perkembangannya, termasuk memiliki tanggung jawab terhadap kehidupannya dimana sangat penting untuk individu tersebut mengetahui bagaimana cara mengelola keuangan pribadi termasuk berinvestasi dengan tujuan memenuhi kebutuhan di masa depan (Ni Made Dwiyana Rasuma Putri, 2017). Membangun   minat   mahasiswa   untuk   berinvestasi   diperlukan   langkah-langkah  pendahuluan  yang  mendorong  munculnya  minat  tersebut.  Salah  satu  faktor penentunya  adalah  tingkat  pengetahuan.

Dibandingkan  dengan  Negara  lain, minat masyarakat  Indonesia  untuk melakukan investasi di  pasar  modal terbilang  cukup  rendah  yaitu berjumlah  0,15%  penduduk Indonesia  (Pajar,  2017). Halim  (2005)  menyatakan  bahwa  untuk melakukan investasi di pasar modal diperlukan pengetahuan yang cukup, pengalaman serta  naluri  bisnis  untuk  menganalisis  efek-efek  mana  yang  akan  dibeli.  Pengetahuan yang   memadai   sangat   diperlukan   untuk   menghindari   terjadinya   kerugian   saat berinvestasi di pasar modal, seperti pada instrumen investasi saham.

Diantara berbagai instrumen investasi , saham merupakan instrumen yang paling besar risikonya sehingga pada umumnya unbal hasil saham jauh lebih tinggi dibandingkan instrumen lainnya. Saham  dikenal  dengan  karakteristik  imbal  hasil  tinggi, resiko tinggi (high  risk,  high return) begitu juga sebaliknya. Artinya saham merupakan surat berharga yang memberikan   peluang keuntungan  tinggi  namun juga  berpotensi  resiko  tinggi  (Darmadji  dan  Fakhruddin, 2015:10).

Pada dasamya risiko tidak dapat dihindari tetapi investor dapat meminimalisir risiko dengan melakukim diversifikasi dengan cara menempatkim dana pada berbagai instrumen investasi sehingga terbentuk portofolio investasi yang optimal. Seberapa besar investor mau menanggung risiko sangat ditentukan oleh sikap investor terbadap risiko, apakah dia seorang penghindar risiko (risk averse), penyuka risiko (risk seeker), atau tidak peduli risiko (risk indifference). Sikap  investor  terhadap  risiko  akan  sangat  tergantung  kepada  preferensi investor  tersebut  terhadap  risiko.  Investor  yang  lebih  berani  akan  memilih  investasi yang memiliki risiko tinggi, yang diikuti tingkat keuntungan yang tinggi pula. Sebaliknya investor yang tidak mau menanggung risiko yang terlalu tinggi, tentunya tidak akan bisa mengharapkan tingkat keuntungan yang terlalu tinggi (Syahyunan, 2015:75).

Persentase keuntungan yang didapatkan yang berasal dari suatu jenis investasi yang dimiliki berdasarkan jangka waktu yang ditentukan merupakan pengertian return atau imbal hasil. Return adalah imbal hasil yang diperoleh dari investasi atau sering disebut tingkat pengembalian investasi (Rate of Return). Rate of Return dapat berupa return realisasi (realized rate of return) dan return ekspektasi (expected rate of return).

Return realisasi merupakan return yang telah terjadi yang dihitung  berdasarkan data historis. Return realisasi dari kepemilikan suatu investasi dalam satu periode tertentu, misalnya satu tahun merupakan kenaikan nilai investasi dibagi dengan investasi awal. Kenaikan nilai investasi tercermin pada selisih nilai investasi akhir periode dengan nilai awal periode. Berdasarkan return realisasi, investor dapat memprediksi return yang diharapkan akan terjadi dimasa yang akan datang. Return yang diharapkan inilah yang disebut expected rate of return.

Selain menggunakan data return realisasi secara historis, expected rate of return sering kali dikaitkan dengan prediksi aliran kas yang akan terjadi di masa yang akan datang. Prediksi aliran kas sangat dipengaruhi oleh kemungkinan kondisi ekonmni yang akan terjadi. Tingkat pengembalian investasi merupakan perbandingan antara aliran kas neto yang akan diterima dengan uang yang diinvestasikan.

Salah satu asumsi yang paling penting adalah bahwa semua investor tidak menyukai risiko/risk averse. Investor seperti ini jika dihadapkan pada dua pilihan, investasi yang menawarkan return yang sama dengan risiko yang berbeda akan cenderung memilih investasi dengan risiko yang lebih rendah.

Menurut Brigham and Daves, (2004), Risiko dalam suatu investasi itu secara umum dapat dibagi atas dua yaitu: Unsistimatik Risk atau Unique Risk, Sistematik Risk. Pertama, Unsistimatik Risk adalah risiko saham atau portofolio yang disebabkan oleh sekuritas atau permasalahan yang dihadapi oleh industri tertentu. Risiko ini dapat dihindari dengan melakukan diversifikasi. Kedua Sistematik Risk (Market Risk) risiko jenis kedua ini adalah resiko yang disebabkan oleh pergerakan pasar secara umum, seperti perubahan ekonomi suatu negara, perubahan pajak dan krisis energi dunia. Risiko ini tidak dapat diminimalkan dengan diversifikasi bahkan investor yang sudah melakukan diversifikasi dengan baik pun akan terkena dampaknya. Dua Klasifikasi risiko tersebut terdapat strategi untuk mengurangi tingkat yang ditanggung, yaitu dengan cara diversifikasi. Diversifikasi merupakan upaya membagi risiko investasi dalam bentuk portofolio. 

Menurut Bodie et al. (2014), membentuk portofolio, investor selalu ingin memaksimalkan return yang diharapkan dengan tingkat risiko tertentu yang bersedia ditanggungnya atau mencari portofolio yang menawarkan risiko terendah dengan tingkat return tertentu. Karakteristik portofolio seperti ini disebut sebagai portofolio yang efisien.

Penentuan portofolio optimal dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: Portofolio optimal berdasarkan preferensi investor, Portofolio berdasarkan model Markowitz, Portofolio optimal degan aktiva bebas risiko atau Portofolio optimal dengan adanya simpanan dan pinjaman bebas risiko.

Referensi:

Ahmad Radoni and Muhammad Anwar Fathoni, Manajemen Investasi Syariah, ed. M. Masykur, 1st ed. (Salemba Diniyah, 2019), 48.

Bodie, Z., Alex Kane and A. J. Marcus. (2014). Investments and Portofolio.

Darmadji T., dan Fakhruddin, H. M. (2015). Pasar Modal di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.

Febriyanto, F. (2018). Keputusan Diversifikasi Portofolio Investasi Diera Mea. Fidusia: Jurnal Keuangan Dan Perbankan, 1(2). https://doi.org/10.24127/jf.v1i2.306

Halim, Abdul. (2015). Analisis Investasi di Aset Keuangan. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Halim, Abdul. 2005. "Analisis Investasi". Edisi ke- 2. Jakarta : Salemba

Hidayat, L., Muktiadji, N., & Supriadi, Y. (2019). Pengaruh Pengetahuan Investasi Terhadap Minat Mahasiswa Berinvestasi Di Galeri Investasi Perguruan Tinggi. JAS-PT (Jurnal Analisis Sistem Pendidikan Tinggi Indonesia), 3(2), 63-70. https://doi.org/10.36339/jaspt.v3i2.215

Ladamay, A. Z. F., Supriyanto, T., & Nugraheni, S. (2021). Pengaruh Media Sosial, Literasi Keuangan, Risiko, Imbal Hasil, dan Religiusitas Terhadap Minat Berinvestasi Sukuk Generasi Z di Jakarta. Islamic Economics Journal, 7(2), 161-185.https://doi.org/10.21111/iej.v7i2.6552

Ni Made Dwiyana Rasuma Putri and Henny Rahyuda, "Pengaruh Tingkat Financial Literacy Dan Faktor Sosiodemografi Terhadap Perilaku Keputusan Investasi Individu," E-Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana 9 (2017): 3407. https://doi.org/10.24843/EEB.2017.v06.i09.p09

Pajar, Rizki Chaerul, (2017). Pengaruh Motivasi Investasi Dan Pengetahuan Investasi Terhadap Minat Investasi Di Pasar Modal Pada Mahasiswa FE UNY. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.

Rifai, A. B. A. (2020). Analisis Risiko Imbal Hasil Pada Bank Syariah. Al-Infaq: Jurnal Ekonomi Islam, 11(2), 226-234. https://doi.org/10.32507/ajei.v11i2.664

Syahyunan. (2013). Manajemen Keuangan. Medan: USU Press


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MOTIVASI

Semua orang perlu motivasi dalam kehidupannya dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan lansia. Yang membedakan hanya tujuan, motivasi dapat di...