1. 1. Jelaskan bagaimana sebuah pernyataan dapat disebut sebagai kalimat?
Sugono (2002: 26-28) menjelaskan bahwa sebuah pernyataan (lisan atau tulis)
dapat dikategorikan sebagai kalimat bila memiliki dua persyaratan pokok.
Persyaratan pokok tersebut adalah (1) unsur predikat dan (2) permutasi atau
perubahan urutan unsur kalimat. Setiap kalimat sekurang-kurangnya memiliki predikat.
2. 2. Jika sebuah pernyataan tidak mengandung predikat, apakah bisa disebut
kalimat? Jelaskan!
Dengan kata lain, jika suatu pernyataan memiliki predikat, pernyataan itu
merupakan kalimat, sedangkan suatu untaian kata yang tidak memiliki predikat
disebut frasa. Tanpa subjek dan predikat, rangkaian kata tidak dapat membentuk
sebuah kalimat. Frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang membentuk
suatu makna. Frasa bersifat nonpredikatif atau yang sering dijelaskan sebagai
gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis (subyek, obyek,
keterangan, dan pelengkap) dalam sebuah kalimat.
3. 3. Kalimat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis yakni kalimat tunggal
kalimat majemuk, kalimat lengkap, kalimat tidak lengkap, kalimat invensi dan
kalimat permutasi, buatlah masing masing atau contoh kalimat dari jenis jenis
kalimat tersebut!
1.
Kalimat Tunggal
(66) Separuh pesisir Pulau Bangka (S) rusak (P).
(67) Separuh pesisir Pulau Bangka (S) rusak (P) karena
aktivitas kapal pasir timah (K).
(68) Separuh pesisir Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung, (S) rusak (P) karena aktivitas kapal pasir timah (K).
Kalimat tunggal pada
contoh (66) adalah kalimat dasar, sedangkan kalimat tunggal pada contoh (67 dan
68) adalah kalimat tunggal yang sudah diperluas oleh unsur keterangan:
keterangan sebab pada kalimat (67)
2.
Kalimat majemuk
1)
Hubungan koordinasi (majemuk setara)
(70) Candi Gedong Songo memiliki sembilan kelompok candi,
tetapi sebagian kelompok candi itu sudah hilang.
Kalimat (70) terdiri
atas dua klausa: (1) candi Gedong Songo memiliki sembilan kelompok candi dan
(2) sebagian kelompok candi itu sudah hilang.
2)
Hubungan subordinasi (majemuk bertingkat)
(71) Candi Gedong Songo merupakan mutiara kehidupan
karena menjadi sumber
nafkah bagi masyarakat sekitarnya.
Kalimat di atas
terdiriatas dua klausa, yaitu (1) Candi Gedong Songo merupakan mutiara
kehidupan dan (2) (Candi Gedong Songo) menjadi sumber nafkah bagi masyarakat
sekitarnya. Kedua klausa itu dihubungkan oleh konjungsi karena. Klausa (1)
merupakan klausa utama,
sedangkan klausa (2) merupakan klausa bawahan.
3.
Kalimat Lengkap dan Kalimat Tidak Lengkap
1)
Kalimat elips adalah kalimat tak lengkap yang terjadi karena pelesapan
beberapabagian dari klausa dan diturunkan dari kalimat tunggal.
Menonton hewan di layar kaca.
Terserah kepada Anda.
2)
Kalimat sampingan adalah kalimat taklengkap yang terjadi dari klausa tak lengkap
dan diturunkan dari kalimat majemuk bertingkat.
Karena sangat sepi.
Seperti mengeluarkan peringatan dini.
3)
Kalimat urutan adalah kalimat berklausa lengkap, namun mengandung konjungsi
yang menunjukkan bahwa kalimat itu merupakan bagian dari kalimat lain.
Setelah itu, tak ada lagi berita
tentang demonstrasi.
Namun, kebijakan itu itu tidak
boleh menimbulkan masalah baru bagi rakyat.
4)
Kalimat minor adalah kalimat tak lengkap yang memiliki intonasi final.
Jenis kalimat ini ada yang berstruktur klausa dan ada yang tidak. Yang termasuk
kalimat minor, misalnya, terlihat di bawah ini.
a) Panggilan, contoh: Zus,
Prof
b) Salam, contoh: Halo,
Assalamualaikum
c) Ucapan, contoh: selamat
berbahagia, turut berduka cita
d) Seruan, contoh: astaga!
Oh !
e) Judul, contoh: Salah
Asuhan, Putri yang Tertukar
f) Motto, contoh: Kebersihan
sebagian dari iman
g) Inskripsi, contoh: Di
sini beristirahat dengan damai
h) Ungkapan khusus yang berupa:
(a) Larangan: dilarang merokok
(b) Peringatan: awas anjing galak
(c) Permintaan: bayarlah dengan uang pas
(d) Anjuran: bacalah aturan pemakaiannya
(e) Harapan: semoga sukses
(f) Perintah: kurangi kecepatan
(g) Pernyataan: terima jahitan pria dan wanita
4.
Kalimat Inversi dan Kalimat Permutasi
1)
Kalimat inversi adalah kalimat yang mengharuskan predikat mendahului subjek
(berpola P-S).
Ada (P) masalah (S) dalam tubuh
partai.
Ada (P) kebenaran (S) dalam
setiap pernyataan saksi.
Kalimat ini
mensyaratkan subjek takdefinit
Ada (P) masalah tersebut (S
definit) dalam tubuh partai.
Ada (P) kebenaran itu (S definit)
dalam setiap pernyataan saksi.
Jika S pada kalimat
tersebut diubah menjadi S definit, kalimat itu menjadi tidak berterima.
Masalah (S) ada (P) dalam tubuh
partai.
Kebenaran (S) ada (P) dalam
setiap pernyataan saksi.
Demikian pula halnya,
jika urutan kata tersebut diubah menjadi S-P kalimat tersebut pun menjadi tidak
berterima.
Masalah tersebut (S) ada (P)
dalam tubuh partai.
Kebenaran itu (S) ada (P) dalam
setiap pernyataan saksi.
pola S-P menjadi
berterima jika subjeknya diubah menjadi definit, tetapi maknanya tentu sudah
berbeda.
2)
Kalimat permutasi adalah kalimat yang berpola terbalik, yaitu P-S, atau
P-O-S. Berbeda dengan inversi, permutasi tidak mengharuskan urutan P-S, tetapi
hanyalah merupakan salah satu gaya yang dapat dipilih dari urutan yang baku
Tak perlu datang (P) dia (S). → Dia (S) tak perlu datang
(P).
Menjual (P) air mineral (O) anak itu (S). -→ Anak itu (S)
menjual (P) air mineral (O)
4. 4. Salah satu syarat kalimat efektif yaitu harus gramatikal. Apa yang dimaksud
dengan gramatikal disini? Jelaskan!
Gramatikal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia gramatikal yaitu sesuai
dengan tata bahasa; menurut tata bahasa. Kalimat gramatikal berarti kalimat yang
memenuhi kaidah-kaidah tata bahasa: kaidah pembentukan bunyi/ortografis, kaidah
pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat, dan kaidah penulisan paragraf
5. 5. Sebutkan dan jelaskan hal hal yang terkait dengan gramatikal?
(1)
Kalimat harus mempunyai subjek dan predikat
(2)
Subjek tidak boleh didahului oleh kata depan
(3)
Predikat dan objek tidak diselipi kata kain
(4)
Tidak terdapat subjek ganda pada kalimat tuggal
(5)
Keterangan tambahan terletak di sebelah kanan unsur yang diterangkan
(6)
Predikat tidak boleh didahului oleh yang
(7)
Penggunaan konjungsi antarkalimat secara tepat
(8)
Penggunaan konjungsi intrakalimat pada kalimat majemuk secara tepat