Senin, 21 November 2022

Implementasi dari Resiko dan Imbal Hasil dengan Portofolio

 Fania Septiany, Institut Manajemen Wiyata Indonesia

Mahasiswa merupakan masa memasuki masa dewasa yang pada umum berada pada rentang usia 18-25 tahun, pada masa tersebut mahasiswa memiliki tanggung jawab terhadap masa perkembangannya, termasuk memiliki tanggung jawab terhadap kehidupannya dimana sangat penting untuk individu tersebut mengetahui bagaimana cara mengelola keuangan pribadi termasuk berinvestasi dengan tujuan memenuhi kebutuhan di masa depan (Ni Made Dwiyana Rasuma Putri, 2017). Membangun   minat   mahasiswa   untuk   berinvestasi   diperlukan   langkah-langkah  pendahuluan  yang  mendorong  munculnya  minat  tersebut.  Salah  satu  faktor penentunya  adalah  tingkat  pengetahuan.

Dibandingkan  dengan  Negara  lain, minat masyarakat  Indonesia  untuk melakukan investasi di  pasar  modal terbilang  cukup  rendah  yaitu berjumlah  0,15%  penduduk Indonesia  (Pajar,  2017). Halim  (2005)  menyatakan  bahwa  untuk melakukan investasi di pasar modal diperlukan pengetahuan yang cukup, pengalaman serta  naluri  bisnis  untuk  menganalisis  efek-efek  mana  yang  akan  dibeli.  Pengetahuan yang   memadai   sangat   diperlukan   untuk   menghindari   terjadinya   kerugian   saat berinvestasi di pasar modal, seperti pada instrumen investasi saham.

Diantara berbagai instrumen investasi , saham merupakan instrumen yang paling besar risikonya sehingga pada umumnya unbal hasil saham jauh lebih tinggi dibandingkan instrumen lainnya. Saham  dikenal  dengan  karakteristik  imbal  hasil  tinggi, resiko tinggi (high  risk,  high return) begitu juga sebaliknya. Artinya saham merupakan surat berharga yang memberikan   peluang keuntungan  tinggi  namun juga  berpotensi  resiko  tinggi  (Darmadji  dan  Fakhruddin, 2015:10).

Pada dasamya risiko tidak dapat dihindari tetapi investor dapat meminimalisir risiko dengan melakukim diversifikasi dengan cara menempatkim dana pada berbagai instrumen investasi sehingga terbentuk portofolio investasi yang optimal. Seberapa besar investor mau menanggung risiko sangat ditentukan oleh sikap investor terbadap risiko, apakah dia seorang penghindar risiko (risk averse), penyuka risiko (risk seeker), atau tidak peduli risiko (risk indifference). Sikap  investor  terhadap  risiko  akan  sangat  tergantung  kepada  preferensi investor  tersebut  terhadap  risiko.  Investor  yang  lebih  berani  akan  memilih  investasi yang memiliki risiko tinggi, yang diikuti tingkat keuntungan yang tinggi pula. Sebaliknya investor yang tidak mau menanggung risiko yang terlalu tinggi, tentunya tidak akan bisa mengharapkan tingkat keuntungan yang terlalu tinggi (Syahyunan, 2015:75).

Persentase keuntungan yang didapatkan yang berasal dari suatu jenis investasi yang dimiliki berdasarkan jangka waktu yang ditentukan merupakan pengertian return atau imbal hasil. Return adalah imbal hasil yang diperoleh dari investasi atau sering disebut tingkat pengembalian investasi (Rate of Return). Rate of Return dapat berupa return realisasi (realized rate of return) dan return ekspektasi (expected rate of return).

Return realisasi merupakan return yang telah terjadi yang dihitung  berdasarkan data historis. Return realisasi dari kepemilikan suatu investasi dalam satu periode tertentu, misalnya satu tahun merupakan kenaikan nilai investasi dibagi dengan investasi awal. Kenaikan nilai investasi tercermin pada selisih nilai investasi akhir periode dengan nilai awal periode. Berdasarkan return realisasi, investor dapat memprediksi return yang diharapkan akan terjadi dimasa yang akan datang. Return yang diharapkan inilah yang disebut expected rate of return.

Selain menggunakan data return realisasi secara historis, expected rate of return sering kali dikaitkan dengan prediksi aliran kas yang akan terjadi di masa yang akan datang. Prediksi aliran kas sangat dipengaruhi oleh kemungkinan kondisi ekonmni yang akan terjadi. Tingkat pengembalian investasi merupakan perbandingan antara aliran kas neto yang akan diterima dengan uang yang diinvestasikan.

Salah satu asumsi yang paling penting adalah bahwa semua investor tidak menyukai risiko/risk averse. Investor seperti ini jika dihadapkan pada dua pilihan, investasi yang menawarkan return yang sama dengan risiko yang berbeda akan cenderung memilih investasi dengan risiko yang lebih rendah.

Menurut Brigham and Daves, (2004), Risiko dalam suatu investasi itu secara umum dapat dibagi atas dua yaitu: Unsistimatik Risk atau Unique Risk, Sistematik Risk. Pertama, Unsistimatik Risk adalah risiko saham atau portofolio yang disebabkan oleh sekuritas atau permasalahan yang dihadapi oleh industri tertentu. Risiko ini dapat dihindari dengan melakukan diversifikasi. Kedua Sistematik Risk (Market Risk) risiko jenis kedua ini adalah resiko yang disebabkan oleh pergerakan pasar secara umum, seperti perubahan ekonomi suatu negara, perubahan pajak dan krisis energi dunia. Risiko ini tidak dapat diminimalkan dengan diversifikasi bahkan investor yang sudah melakukan diversifikasi dengan baik pun akan terkena dampaknya. Dua Klasifikasi risiko tersebut terdapat strategi untuk mengurangi tingkat yang ditanggung, yaitu dengan cara diversifikasi. Diversifikasi merupakan upaya membagi risiko investasi dalam bentuk portofolio. 

Menurut Bodie et al. (2014), membentuk portofolio, investor selalu ingin memaksimalkan return yang diharapkan dengan tingkat risiko tertentu yang bersedia ditanggungnya atau mencari portofolio yang menawarkan risiko terendah dengan tingkat return tertentu. Karakteristik portofolio seperti ini disebut sebagai portofolio yang efisien.

Penentuan portofolio optimal dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: Portofolio optimal berdasarkan preferensi investor, Portofolio berdasarkan model Markowitz, Portofolio optimal degan aktiva bebas risiko atau Portofolio optimal dengan adanya simpanan dan pinjaman bebas risiko.

Referensi:

Ahmad Radoni and Muhammad Anwar Fathoni, Manajemen Investasi Syariah, ed. M. Masykur, 1st ed. (Salemba Diniyah, 2019), 48.

Bodie, Z., Alex Kane and A. J. Marcus. (2014). Investments and Portofolio.

Darmadji T., dan Fakhruddin, H. M. (2015). Pasar Modal di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.

Febriyanto, F. (2018). Keputusan Diversifikasi Portofolio Investasi Diera Mea. Fidusia: Jurnal Keuangan Dan Perbankan, 1(2). https://doi.org/10.24127/jf.v1i2.306

Halim, Abdul. (2015). Analisis Investasi di Aset Keuangan. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Halim, Abdul. 2005. "Analisis Investasi". Edisi ke- 2. Jakarta : Salemba

Hidayat, L., Muktiadji, N., & Supriadi, Y. (2019). Pengaruh Pengetahuan Investasi Terhadap Minat Mahasiswa Berinvestasi Di Galeri Investasi Perguruan Tinggi. JAS-PT (Jurnal Analisis Sistem Pendidikan Tinggi Indonesia), 3(2), 63-70. https://doi.org/10.36339/jaspt.v3i2.215

Ladamay, A. Z. F., Supriyanto, T., & Nugraheni, S. (2021). Pengaruh Media Sosial, Literasi Keuangan, Risiko, Imbal Hasil, dan Religiusitas Terhadap Minat Berinvestasi Sukuk Generasi Z di Jakarta. Islamic Economics Journal, 7(2), 161-185.https://doi.org/10.21111/iej.v7i2.6552

Ni Made Dwiyana Rasuma Putri and Henny Rahyuda, "Pengaruh Tingkat Financial Literacy Dan Faktor Sosiodemografi Terhadap Perilaku Keputusan Investasi Individu," E-Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana 9 (2017): 3407. https://doi.org/10.24843/EEB.2017.v06.i09.p09

Pajar, Rizki Chaerul, (2017). Pengaruh Motivasi Investasi Dan Pengetahuan Investasi Terhadap Minat Investasi Di Pasar Modal Pada Mahasiswa FE UNY. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.

Rifai, A. B. A. (2020). Analisis Risiko Imbal Hasil Pada Bank Syariah. Al-Infaq: Jurnal Ekonomi Islam, 11(2), 226-234. https://doi.org/10.32507/ajei.v11i2.664

Syahyunan. (2013). Manajemen Keuangan. Medan: USU Press


Rabu, 16 November 2022

Membaca Melatih Kemampuan Berpikir dan Berinovatif?

 Fania Septiany, Mahasiswa Institut ManajemenWiyata Indonesia

Mahasiswa patut menggali serta mengembangkan potensi diri mereka, tidak hanya kegiatan dikampus saja apalagi hanya di kelas, mahasiswa mempunyai tugas penting menjadi agen perubahan dan pembangunan. Peran tersebut bisa dimulai dari hal yang paling dasar seperti membaca dan dapat diwujudkan dalam berbagai tulisan ilmiah yang berkualitas. Semakin banyak membaca judul dan abstrak riset maka akan semakin terbuka luas wawasan yang bisa dimiliki mahasiswa. Beberapa pakar menyebut ini sebagai exhaaustive reading, membaca sebanyak banyaknya dari berbagai sumber.  Hal-hal dasar yang mulai dilakukan ini kita dapatkan pada mata kuliah Penulisan dan Presentasi Ilmiah.

Mata kuliah Penulisan dan Presentasi Ilmiah didapatkan pada semester tiga di Institut Manajemen Wiyata Indonesia. Pada mata kuliah ini dibahas berbagai topik meliputi jenis karya tulis, pemilihan topik, pengembangan tinjauan pustaka, penghindaran plagiarisme, hingga penyusunan outline penelitian. Dari berbagai topik yang dibahas hanya diambil satu topik khusus untuk menjadi bahan tulisan ini. Namun hal yang paling penting dari mata kuliah ini adalah setelah kita mempelajari semua topik seputar penulisan karya tulis ilmiah mahasiswa berkesempatan  mengimplementasikan keterampilan  menyusun naskah karya tulis ilmiah pada tugas akhir mata kuliah ini.

Yang  diambil secara khusus dan  akan dibahas lebih lanjut pada tulisan ini adalah pemilihan topik. Topik adalah suatu isu atau pokok persoalan yang sifatnya masih umum dan abstrak, pada dasarnya merupakan pokok pembicaraan dalam keseluruhan tulisan yang digarap dan sebagai landasan yang dapat dipergunakan oleh seorang penulis untuk menyampaikan maksudnya. Aktivitas menulis tidak mungkin dilakukan tanpa topik. Oleh karena itu, kegiatan pertama yang harus dilakukan pada tahap pra penulisan ialah memilih topik (Diana Silaswati, 2018). 

Misalnya, isu mengenai Perilaku Organisasi, ini adalah topiknya, yang tentunya masih bersifat umum, permasalahan Perilaku Organisasi dalam hal apa masih belum jelas, oleh karenanya dikatakan bahwa topik masih bersifat umum dan abstrak. Sehingga langkah selanjutnya untuk membuat karya tulis ilmiah setelah diketahui topiknya, adalah pembatasan topik, kemudian menentukan tema dan judul.  

Sering sekali kita sebagai peneliti baru sering merasa kesusahan saat memulai tulisan. Maka dari itu sebelumnya dalam setiap penelitian, menurut Suyanto (1995) penentuan ruang lingkup adalah salah satu langkah penting yang harus dilakukan. Bila hal ini tidak dilakukan maka peneliti kemungkinan besar akan selalu tergoda untuk terus menggali data-data yang sebenarnya kurang berkaitan dengan tujuan dan masalah inti penelitiannya. Sering terjadi, peneliti demikian bersemangat untuk meneliti dan menelusuri suatu persoalan, sehingga ia tidak sadar akan kesukaran-kesukaran yang pasti di hadapinya karena objek penelitiannya terlampau luas. Dengan menentukan ruang lingkup, kegiatan penelitian tak akan melebar dan melantur ke sana ke mari tanpa kontrol, untuk kemudian kehilangan fokus (Diana Silaswati, 2018).

Dalam penelitian pun sebagai mahasiswa bahwasan nya sangat perlu memantau berita yang up to date diluar dan didalam negeri sehingga penelitian yang dibuat bisa membantu  menciptakan ke inovativan  untuk bangsa yang lebih maju lagi.

Sabtu, 15 Oktober 2022

BERPIKIR KRITIS MAHASISWA

 

Menurut pendapat Suwardjono (2005) menyatakan bahwa kondisi belajar mengajar di perguruan tinggi di Indonesia secara umum belum mengubah secara nyata wawasan dan perilaku akademik. Hal ini terlihat dari sudut pandang, cara berpikir mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi yang tidak menunjukkan perbedaan dengan masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.

Idealnya miliki oleh setiap mahasiswa memiliki kemampuan hard skills dan soft klills. Namun kenyataan selama ini, perkuliahan yang terjadi terkadang masih hanya menguatkan hard skills saja. Hard skills yang dimaksud disini berkaitan dengan penguasaan materi perkuliahan (teori), sedangkan soft skills lebih kearah penguat hard skills. Menurut Wagner (2008) yang termasuk soft skills salah satunya berupa kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Pentingnya berpikir kritis bagi seorang mahasiswa yaitu seorang mahasiswa harus memiliki kemampuan berpikir kritis serta menyimpulkan permasalahan, mengerti dan memahami bagaimana memanfaatkan suatu informasi yang dimiliki untuk dapat dipecahkan dari sumber yang relevan. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis ikut menentukan keberhasilan mahasiswa dalam membangun pemahaman sebuah kritik konstruktif terhadap suatu konsep. (Enny Diah Astuti, 2021)

Karakter yang dimiliki oleh mahasiswa merupakan karakter yang dapat membawa perubahan dan bermanfaat bagi orang lain. Salah satunya dalam berpikir kritis. Setiap hari manusia dihadapkan oleh berbagai permasalahan, isu-isu, dan narasi-narasi yang mempengaruhi kehidupan. Semua permasalahan itu tidak mungkin dapat dipikirkan dengan mudah, sering kali permasalahan itu sulit dihadapi. Maka dari itu, sebagai mahasiswa harus membiasakan diri untuk berpikir secara kritis agar dapat membuat keputusan yang matang dan bijaksana. Selain itu hal ini dapat menolong, sebab tidak mudah terprovokasi dan menelan informasi secara mentah-mentah. Mahasiswa yang biasa berpikir kritis akan mendalam atau menggali informasi dan memahami suatu masalah dengan baik sehingga dapat mengambil keputusan dengan bijak. Mahasiswa yang mempunyai kualitas pendidikan yang baik akan membawa perubahan yang baik bagi bangsa.

Dilihat dari konteks perbaikan kualitas pendidikan, maka Problem Based Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran. Model problem based learning merupakan pembelajaran yang menggunakan kemampuan berpikir mahasiswa secara individu maupun kelompok secara nyata dalam mengatasi permasalahan sehingga lebih bermakna, relevan dan kontekstual. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah sebuah model pembelajaran yang memfokuskan pada pelacakan akar masalah dan memecahkan masalah tersebut (Abbudin, 2011:243).

Menurut Wina Sanjaya (2010 : 214-215) terdapat tiga ciri utama dari Problem Based Learning antara lain : pertama, Problem Based Learning merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi Problem Based Learning ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan mahasiswa. Problem Based Learning tidak mengharapkan mahasiswa hanya sekadar mendengarkan, mencatat, dan kemudian menghapal materi pelajaran, akan tetapi melalui Problem Based Learning mahasiswa didorong untuk aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, sehingga pada akhirnya menyimpulkan.

Kedua, aktivitas pembelajaran ditujukan untuk menyelesaikan masalah. Problem Based Learning menempatkan masalah sebagai kata kunci dalam pembelajaran. Sehingga dapat diartikan tanpa masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran. Ketiga, pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.

Keterampilan berpikir kritis mahasiswa yang dikembangkan melalui penerapan problem based learning adalah untuk mendorong mahasiswa memiliki kemampuan mengidentifikasi masalah, memetakan masalah, mencari solusi dalam penyelesaian secara kreatif serta cara mahasiswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat dalam memberikan tanggapan dari kelompok lain yang memiliki pendapat yang berbeda serta cara mahasiswa bertanya dan menjawab pertanyaan dan mengemukakan pendapat berdasarkan sumber informasi yang tepat.

Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa penerapan problem based learning sangat membantu untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis mahasiswa. Kemampuan berpikir kritis inilah yang nantinya dapat dijadikan sebagai bekal mahasiswa untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi di masa depan dan sebagai persiapan mahasiswa untuk terjun ke dalam dunia industri.



Fania Septiany

Administrasi Bisnis-A

Institut Manajemen Wiyata Indonesia

Selasa, 04 Oktober 2022

MENULIS UNTUK KEPERLUAN TUGAS?!

Banyak orang termasuk saya masih merasa belum bisa menulis. Kendala yang sering terjadi berharap tulisan saya bagus menerapkan ekspetasi berlebih kepada kemampuan saya. SPOK, tanda baca dan peraturan penulisan lainnya yang membuat ingin menyerah. Menurut saya, rasa ingin menulis muncul karena rasa ketertarikan membaca, membaca hal yang ringan-ringan saja. Biasanya saat membaca dan masuk kedalam alur tersebut  setelah selesai membaca ada rasa tersendiri yang muncul, bila hal itu terjadi terus menerus memunculkan ide dan keinginan menulis. 

Awal ketertarikan menulis terjadi saat dibangku Sekolah Menengah Pertama, walau saat itu hanya keinginan saja belum menulis sampai beberapa chapter. Itu terjadi karena saat itu ditawari membaca salah satu platform aplikasi komunitas online yang penggunanya dapat menulis dan membaca konten informasi dalam lingkup cerita sastra cyber (dunia sastra), yang saat itu ramai dibicarakan. Saya mulai membaca isi konten yang direkomendasikan teman-teman saya dan telarut dalam beberapa cerita yang menginspirasi dalam beberapa genre yang saya suka. Hingga saya melihat perjuangan beberapa penulis yang saya suka menerbitkan karyanya hingga saat ini. Namun, disisi lain tulisan saya berhenti, semangat menulis pun hilang. Berbarengan dengan itu saya merasa cukup bosan mungkin karena penulis yang saya suka sudah mulai berganti platform berbayar dan saya tidak mampu membeli karyanya. Dengan itu, saya pun berganti hiburan ke komik yang dapat dinikmati secara online dalam bentuk website, walau tetap ada hubungan nya dengan dunia sastra.




Pengalaman yang saya punya memang tidak menginspirasi dan tidak bisa dijadikann contoh, pengangalan ini hanya kelabilan seorang remaja yang mencari hiburan tanpa ada hasil, tapi dengan ini saya bertemu satu sosok yang menginspirasi selain dari karyanya kepribadiannya lah yang paling saya kagumi, senang bisa mengenal rintik sedu yang sering dibilang paus karena beliau tidak mau dipanggil kakak atau semacamnya.

Untuk bisa disebut sebagai penulis yang banyak penggemar mungkin saya belum sanggup atau bahkan tidak sanggup. Tapi saya menikmati saat ada tugas membuat surat menyurat, artikel, makalah,essay yang saat proses pembuatan pengennya asal kumpul aja tapi tidak semudah itu untuk saya yang sedikit perfeksionis. Dunia sastra memang sangat menyenangkan tapi saya tim penikmat saja, cukup dengan menyelesaikan tugas saya merasa seperti membuat karya sendiri.


Fania Septiany

Administrasi Bisnis-A

Institut Manajemen Wiyata Indonesia


Kamis, 07 Juli 2022

MICROSOFT ACCESS ??

Penguasaan pengetahuan ilmu bidang IT adalah kebutuhan dalam menghadapi era globalisasi. Perkembangan teknologi tidak dapat kita hindari dalam kehidupan ini, karena perkembangannya berjalan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan[8]. Pada Dunia kerja banyak target yang harus diselesaikan dengan cepat dan benar, sehingga dibutuhkan penggunaan teknologi dalam membantu penyelesaian pekerjaan. Untuk mencari alternatif solusi pemecahan masalah di atas, maka diadakan pelatihan pembuatan basis data dengan Microsoft acces untuk melatih mendesain database, membuat query dan laporan. Microsoft Access adalah salah satu program pengolahan berbasis data relasional yang canggih dengan kemudahan penggunaan yang ada seperti pengaturan data, pembuatan form, pembuatan laporan, serta dukungan penuh untuk mengolah berbagai jenis basis data dengan pengoperasian dalam Open Database Connectivity (ODBC) dan teknologi ActiveX Data Objects (ADO) yang membuat Microsoft Office Access sebagai database “default” dalam sistem operasi Windows (Fauziah Latif, Aditya Wirangga Pratama 2015).

Komputer merupakan alat pengolah data elektronik yang bekerja dan dikendalikan oleh sekelompok instruksi-instruksi yang disebut program,digunakan untuk membantu  manusia agar pekerjaannya menjadi lebih mudah, cepat dan akurat. Microsoft Access adalah suatu program aplikasi basis data komputer relasional yang digunakan untuk merancang, membuat dan mengolah berbagai jenis data dengan kapasitas yang besar. Banyak yang menggunakan Microsoft Acces baik pada home idustri maupun perusahaan besar dalam mengolah database perusahaannya.

Database yang terkomputerisasi sangat menunjang kinerja dari suatu entitas, perancangan database perkantoran melalui Microsoft Acsess sangat membantu dalam pengolahan data serta memberikan informasi yang valid dalam pengambilan keputusan. Ms Acces merupakan suatu program aplikasi untuk membuat database relasioanal yang bisa digunakan untuk perusahaan home industri atau perusahaa lainnya. Pengguna diberikan kemudahan dalam menggunakan MS.Acces karena memiliki Jet database Engine, dan tampilan visual yang memudahkan dalam penggunaannya.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat akan ada banyak fitur-fitur yang menarik, fungsional dan profesional. Program aplikasi ini sangat berguna dalam menambah keahlian terkait data base. Tidak menutup kemungkinan dimasa depan banyak perusahaan yang mencari ahli dalam pengoprasian Microsoft Accsess karena dapat meningkatkan kualitas kerja dengan efektif tenaga dan mengefisienkan waktu. Sifatnya yang mudah digunakan dan tidak membingungkan bagi yang ingin belajar tentang sistem data base, sistem aplikasi ini menyedeiakan fasilitas wizards yang dapat memandu langkah-langkah yang diilustrasikan membuatnya menjadi sistem data base yang populer di dunia. Kelebihannya yang dapat meminimalisir biaya yang terhitung tidak mahal dibanding sistem data base lain yang lebih besar dan mahal tetapi memiliki fungsi dan fitur yang sama.

Terlepas dari fungsi dan kelebihan Microsoft Accsess yang begitu banyak, program aplikasi ini mempunyai beberapa kekrangan seperti kapasitas penyimpanan yang terbatas, jadi pengguna akan mendapat hambatan dalam mengelola data base, oleh karena itu Microsoft Accses ini cocok digunakan oleh peruahaan kecil hingga menengah. Batas penggunaan teknis dari program aplikasi ini adalah 225 orang secara bersamaan, untuk penggunaan multi guna sebenarnya adalah 10 hingga 80 saja.

RELEVANSI KESEHATAN DAN KEAMANAAN KERJA KARYAWAN

 Kata Pengantar

Kinerja karyawan merupakan suatu tolak ukur bagaimana perusahaan mampu bertahan, berkembang dan sukses. Hal ini dikarenakan manusia sebagai sumber daya yang memiliki peranan penting dalam proses pelaksanaan aktivitas suatu perusahaan. Kemampuan suatu perusahaan dalam mengelola sumber daya manusia dengan baik akan berbeda hasilnya dengan perusahaan yang tidak mengelola sumber daya manusianya dengan baik. Menurut Mangkunegara dalam penelitian Syakilla (2019) bahwa keunggulan sebuah perusahaan akan terlihat dari kinerja karyawan, sebab kinerja adalah hasil kerja keras yang dapat dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksankan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Kinerja karyawan dapat berlangsung dengan baik jika hal-hal yang mempengaruhi nya juga tepat.

Luce Neni (2005) mengatakan, pada dasarnya kekuatan yang ada dalam suatu perusahaan terletak pada orang-orang yang ada dalam perusahaan tersebut. Apabila tenaga kerja diperlakukan secara tepat dan sesuai dengan harkat dan martabatnya, perusahaan akan mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh perusahaan. Dari uraian tersebut jelaslah bahwa faktor sumber daya manusia memegang peranan yang paling penting dan utama dalam proses produksi, karena alat produksi tidak akan berjalan tanpa dukungan dan keberadaan sumber daya manusia. 

Dahulu, kini dan nanti untuk bertahan dan menunjang kehidupan manusia butuh pekerjaan. Manusia bekerja tergantung kepada kondisi yang bersifat fisiologis dan psikologis, dan tidak semata-mata untuk mendapatkan uang. Gaji yang tinggi tidak selalu menjadi faktor utama untuk meningkatkan kerja, Mereka bekerja juga untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan memperoleh perhatian pada segi kemanusiaanya (As’ad, 1995). 

Karyawan lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja, sementara lingkungan kerja mereka tidak selalu baik untuk kehidupan yang sehat. Stres, Ketegangan, Kondisi Mental dan Psikologis, Kondisi kerja yang buruk, Jam kerja yang panjang, Ventilasi yang buruk, Insanitasi, Malnutrisi dll. merusak kesehatan mereka. Efisiensi di tempat kerja hanya dimungkinkan jika seorang karyawan dalam keadaan sehat, sedangkan industri memaparkan pekerja pada bahaya tertentu yang memengaruhi kesehatan mereka. Gejala kesehatan yang buruk adalah tingginya angka ketidakhadiran dan tingginya tingkat turnover, ketidakpuasan kepada industri dan ketidakdisiplinan, kinerja yang buruk dan produktivitas yang rendah. 

Masalah yang sering muncul dalam perusahaan saat ini adalah kurangnya perhatian terhadap aspek manusiawi (Yukl, 1998). Pihak manajemen perusahaan seharusnya mampu mengakomodasi persoalan karyawan sejauh yang terkait dengan kepentingan perusahaan. Pertimbangannya adalah bahwa unsur keselamatan dan kesehatan karyawan memegang peranan penting dalam peningkatan mutu kerja karyawan. Semakin cukup kuantitas dan kualitas fasilitas keselamatan dan kesehatan kerja, maka semakin tinggi pula mutu kerja karyawannya. Dengan demikian perusahaan akan semakin diuntungkan dalam upaya pencapaian tujuannya (Sjafri Mangkuprawira dan Aida V. Hubeis, 2007). 

Oleh sebab itu, program jaminan kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting diterapkan dalam perusahaan yaitu untuk meningkatkan kepuasan, sehingga kinerja menjadi lebih meningkat dan tercapainya hasil produksi yang diinginkan (As’ad, 1995). Dengan berbagai tuntutan tentang masalah kesehatan dan keselamatan kerja, perusahaan harus memenuhi tanggung jawab kepada karyawan. 

Dengan begitu, pemerintah memberikan jaminan kepada karyawan dengan menyusun Undang-undang Tentang Kecelakaan Tahun 1947 Nomor 33, yang dinyatakan berlaku pada tanggal 6 januari 1951, kemudian disusul dengan Peraturan Pemerintah Tentang Pernyataan berlakunya peraturan kecelakaan tahun 1947 (PP No. 2 Tahun 1948), yang merupakan bukti tentang disadarinya arti penting keselamatan kerja di dalam perusahaan (Heidjrachman Ranupandojo dan Suad Husnan, 2002). 

Selain itu, tujuan K3 tidak hanya untuk memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja dan orang lain yang berada di tempat kerja agar keselamatannya terjamin, tetapi juga untuk mengendalikan risiko terhadap peralatan, aset, dan sumber produksi sehingga dapat digunakan secara aman dan efisien agar terhindar dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Perlindungan K3 yang efektif dan efisien dapat mendorong produktivitas jika dilaksanakan dan diterapkan melalui sistem manajemen K3 sebagaimana amanat pasal 83 UndangUndang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Untuk itu, tema peringatan bulan K3 Nasional tahun ini pembangunan untuk mendorong semua pihak berpartisipasi aktif membudayakan K3 yang diharapkan menjadi bagian integral dalam nasional untuk meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan. 

Baca selengkapnya disini:

PDF 

Rabu, 27 April 2022

REVIEW MANDIRI KOMUNIKASI BISNIS : "ASUMSI TERHADAP KOMUNIKASI BISNIS"

 

Nama : Fania Septiany

NIM : 21031129

Program Studi : Administrasi Bisnis (A)

Mata Kuliah : Komunikasi bisnis

Dosen Pengampu : Bapak Ce Gunawan S.E., M.M.  


BAB 1

UNDERSTANDING BUSINESS COMMUNICATION 
IN TODAY'S WORKPLACE

Dalam menjalankan sebuah bisnis, dibutuhkan komunikasi yang lancar antar sesama tim atau pun partner. Namun, menjalankan bisnis bukan lah hal yang mudah. Ada yang namanya proses brainstorming di mana kamu dan tim harus bisa menyamakan ide dan pikiran.

Sehingga terciptalah sebuah komunikasi bisnis yang baik dan pesan tersebut bisa diterima oleh konsumen dengan baik. Tetapi untuk mencapai ke arah itu, memerlukan proses yang tidak mudah. Dibutuhkan persiapan yang matang dan pemilihan media yang tepat.

Perusahaan juga perlu menjaga komunikasi yang baik terhadap customer agar terjalin komunikasi bisnis yang baik dan terhindar dari adanya asumsi yang terjadi antara manajer dan tim, hal ini yang menyebabkan perusahaan tidak dapat bertahan dalam persaingan bisnis. 

Oleh karena itu, Komunikasi merupakan faktor yang sangat penting dalam pencapaian tujuan suatu organisasi. Sebelum membahas mengenai asumsi dalam komunikasi bisnis. Kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan komunikasi dan komunikasi bisnis.

Apa itu Komunikasi Bisnis?

Komunikasi adalah proses mentransfer informasi dan makna antara pengirim dan penerima menggunakan satu atau lebih media dan saluran komunikasi. Inti dari komunikasi adalah berbagi, memberikan data, informasi, wawasan, dan inspirasi dalam pertukaran yang menguntungkan Anda dan orang-orang yang berkomunikasi dengan kita.

Komunikasi bisnis melibatkan pertukaran informasi yang konstan. Fokus pada kepentingan perusahaan, bagi para pelaku bisnis yang ingin usahanya terus berkembang, tentunya penting untuk memahami bentuk komunikasi ini. Semakin banyak perusahaan berkembang, semakin besar tekanan pada mereka untuk menemukan cara yang lebih efektif untuk berkomunikasi dengan pekerja dan dunia luar. Oleh karena itu, bisnis dan komunikasi harus berjalan secara beriringan.

Menurut Himstreet dan Baty dalam Business communications principle and method, komunikasi bisnis adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakan.  

Komunikasi dalam dunia bisnis dibagi menjadi 2 bentuk dasar yaitu:

1. Komunikasi verbal

Komunikasi verbal merupakan komunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan bisnis kepada pihak lain baik tertulis maupun lisan. Komunikasi verbal memiliki struktur teratur dan terorganisasi dengan baik. 

Contoh komunikasi verbal yaitu pesan melalui surat,memo, teknologi komunikasi modern, rapat pimpinan,wawancara kerja, dll. Komunikasi yang efektif sangat bergantung pada keterampilan seseorang dalam mengirim maupun menerima pesan maka dari itu komunikasi harus disampaikan dengan baik.

2. Komunikasi Nonverbal

Komunikasi nonverbal merupakan bentuk komunikasi yang paling mendasar dalam komunikasi bisnis. Menurut teori antropologi, sebelum manusia menggunakan bahasa tubuh (body language) sebagai alat untuk berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi nonverbal bersifat lebih spontan dibanding komunikasi verbal dalam hal penyampaian pesan. 

Contoh komunikasi nonverbal yaitu sikap seseorang secara spontan mengerutkan dahi, raut muka yang berubah atau mata berkedip tanpa disengaja dan tak pernah direncanakan sebelumnya.

Komunikasi penting bagi karir dan perusahaan

Banyak perusahaan sekarang melengkapi tenaga kerja tetap mereka dengan kontraktor independen di berbagai bidang bisnis dan teknis yang dibawa untuk waktu yang singkat atau bahkan hanya satu proyek. Kemungkinan akan berkarir sebagai salah satu pekerja lepas, bekerja tanpa jaringan pendukung yang mapan lingkungan perusahaan yang tersedia. Karena itu perlu berkomunikasi dengan sukses dalam berbagai situasi kerja dan bertanggung jawab penuh untuk pertumbuhan dan kesuksesan karir dimasa mendatang.

Selain keuntungan pribadi, komunikasi juga penting bagi perusahaan. Komunikasi yang efektif membantu bisnis dalam berbagai cara,dengan cara:

  • Rasa percaya yang lebih kuat antara individu dan organisasi
  • Ikatan yang lebih dekat dengan komunitas penting di pasar
  • Peluang untuk memengaruhi percakapan, persepsi, dan tren
  • Peningkatan produktivitas dan pemecahan masalah yang lebih cepat
  • Hasil keuangan yang lebih baik dan pengembalian yang lebih tinggi bagi investor
  • Peringatan dini tentang potensi masalah, mulai dari kenaikan biaya bisnis hingga keselamatan kritis masalah
  • Pengambilan keputusan yang lebih kuat berdasarkan informasi yang tepat waktu dan andal 
  • Pesan pemasaran yang lebih jelas dan persuasif 
  • Keterlibatan yang lebih besar dari karyawan dengan pekerjaan mereka, yang mengarah ke kepuasan karyawan yang lebih tinggi faksi dan pergantian karyawan yang lebih rendah

Masalah atau faktor penghambat dalam bisnis bisa beraneka ragam. Apakah masalah itu kecil atau masalah besar tentu perusahaan harus berupaya dalam penyelesaian masalah asumsi. 

Asumsi atau anggapan dasar ini merupakan suatu gambaran sangkaan, perkiraan, suatu pendapat atau kesimpulan sementara suatu teori sementara yang belum terbuktikan.

Menurut pendapat Winarko Surakman sebagaimana dikutip oleh Suharsimi Arikunto dalam buku Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, bahwa asumsi atau anggapan dasar adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik (Suharsimi, 2006: 65).

Adanya asumsi dalam komunikasi di dunia kerja dapat terjadi ketika berbagai faktor dianggap benar tetapi tidak pernah dikonfirmasi, dan hal ini terjadi pada setiap tahap siklus komunikasi. Para manajer perusahaan harus dapat mendengarkan masukan tim dan melakukanriset pasar untuk mendukung asumsi yang disampaikan sebelum bergerak maju dengan suatu produk atau keputusan. Asumsi sendiri merupakan hal yang lumrah dilakukan dalam bisnis untuk strategi dan pengambilan keputusan berdasarkan standar tertentu.

Bagaimana tahapan dalam komunikasi, agar komunikasi dapat tercipta dengan baik. Berikut ini ada 4 langkah yang harus kamu lewati agar dapat menciptakan komunikasi bisnis yang baik.

Melakukan Perencanaan yang Matang

Sebelum melakukan komunikasi bisnis, dibutuhkan perencanaan yang matang pada tahap awal. Di mana kamu harus mempersiapkan komunikasi yang jelas. Agar saat pesan itu disampaikan dapat langsung dipahami dan mengurangi kesalahpahaman.

Dengan begitu, kamu juga akan mendapatkan perhatian dari konsumen. Buatlah suatu pesan yang mudah dimengerti, khususnya pada targetmu.

Bersikaplah Lebih Profesional

Bersikap profesional menjadi kunci utama dalam menjalankan sebuah proses komunikasi bisnis di mana, biasanya akan ada pendapat berbeda dari tim sebelum komunikasi dijalankan. Maka dari itu, sangat penting bagi kamu untuk tidak melibatkan perasaan terlalu dalam saat bekerja.

Bersikaplah lebih profesional dan agar bisa menerima setiap masukan dari tim. Dengan begitu, pesan yang akan kamu sampaikan pada target konsumenmu bisa menjadi lebih matang, jelas, dan lebih baik lagi.

Jika kamu kurang setuju, ajaklah tim untuk berdiskusi sehingga ditemukan jalan tengahnya. Dengan begitu kekompakan tim tetap terjaga.

Memiliki Sifat yang Taksis juga Efisien

Dalam menciptakan komunikasi bisnis yang baik secara tertulis, penting untuk kamu memiliki sifat yang efisien. Karena saat ini, kamu bisa memanfaatkan media digital, seperti email.

Selain itu, jika kamu melakukan pertemuan rapat secara online, tetap pastikan adanya ketepatan waktu yang baik. Bagaimana pun semua orang memiliki agendanya masing-masing. Makanya pastikan kamu tidak bertele-tela dalam menyampaikan pesan agar pesanmu dapat tersampaikan dengan baik dan jelas sebelum waktu berakhir.

Gesit Melakukan Tindak Lanjut

Dalam proses komunikasi bisnis dengan partner bisnismu, sebaiknya jika waktu yang ada tidak cukup untuk membahas semuanya. Kamu bisa membaginya menjadi 2 sesi pertemuan. Di akhir pertemuan kamu bisa memberitahu, bahwa beberapa hal penting lainnya akan ditindak lanjuti dalam pertemuan selanjutnya.

Dengan begitu, partner bisnismu pun tidak akan bingung atau merasa digantung. Dengan begitu, hubungan bersama rekan kerja pun tetap bisa terjaga dengan baik.

Sumber:

Arikunt Suharsimi, (2006), "Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik"

Courtland L. Bovee & John V. Thill, (2016), "Business Communication Essentials", Pearson.

Kompasiana, (2021), "Problem Solving terhadap Komunikasi Bisnis"

Ciputra School of Business, (2022), "Tahapan Komunikasi Bisnis"





MOTIVASI

Semua orang perlu motivasi dalam kehidupannya dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan lansia. Yang membedakan hanya tujuan, motivasi dapat di...